15 ekor Macan Kumbang Terekam Camera Trap di Nusakambangan

Selain ditumbuhi aneka jenis tumbuhan, Kawasan Konservasi Cagar Alam Nusakambangan, ternyata menjadi tempat tinggal satwa liar dilindungi.// Salah satunya adalah Macan Kumbang, yang dari hasil pemantauan Resort Konservasi Cilacap, melalui Camera Trap, sedikitnya 15 ekor macan kumbang tertangkap kamera. Selengkapnya mengenai informasi tersebut dalam kaitannya dengan rencana pengembangan Kawasan Taman Wisata Alam di Nusakambangan ?? Ikuti laporannya.

Pulau Nusakambangan selain dikenal sebagai lokasi Lembaga Pemasyarakan bagi narapidana kelas berat, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah-RTRW Nasioanal ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Cagar Alam. Kawasan Cagar Alam Nusakambangan yang terbagi menjadi 2 wilayah Barat dan Timur tersebut memiliki kekayaan flora dan fauna. Selain aneka tumbuhan, kawasan Cagar Alam Nusakambangan juga sebagai habitat hewan liar, seperti elang laut, monyet ekor panjang, lutung, aneka jenis burung, babi hutan, biawak dan spesies Macan. Kepala Resor Konservasi Cilacap Balai Konservasi Sumberdaya Alam-KSDA Jawa Tengah, Dedi Rusyanto ketika ditanya Bercahaya FM di ruang kerjanya mengakui, dari hasil kamera trap di Kawasan Konservasi Cagar Alam Nusakambangan ditemukan semua jenis satwa liar, baik yang dilindungi maupun tidak dilindungi. Dalam kegiatan kamera trap yang dilakukan Resort Konservasi Cilacap di Kawasan Konservasi Nusakambangan, sedikitnya 15 ekor Macan Kumbang yang tertangkan kamera.

Menurut Dedi Rusyanto, 15 ekor macan kumbang yang tertangkap kamera tersebut, tersebar di sejumlkah titik, seperti di ujung timur Karang Tengah, Karang Bandung, dan di batas tengah perbatasan dengan kawasan yang menjedi kewenangan Kementerian Hukum dan Ham . Namun, dari hasil pemantauan di lapangan, aktivitas satwa liar dilingungi tersebut, tidak berinteraksi dan menggaggu aktivitas di LP Nusakambangan. Sementara menjawab pertanyaan, adanya rencana pengembangan Kawasan Cagar Alam di bagian Timur Nusakambangan menjadi Taman Wisata Alam, dibenarkan oleh Dedi Rusyanto yang menjelaskan, tahapan kajian rencana tersebut, kini berada di tingkat pusat.

Menurut Kepala Resort Konservasi Cilacap, Dedi Rusyanto, meski sudah dikaji sebagai Taman Wisata Alam, bukan berarti nantinya dapat dimanfaatkan secara bebas sebagai obyek wisata, melainkan dalam keterbatasan sesuai prinsip konvervasi dalam melindungi flora fauna di Kawasan Nusakambangan. (4ng2id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *