Balai Rehabilitasi Sosial Napza Satria Purwokerto Tangani rujukan dari 16 Propinsi

Korban Penyalahgunaan Napza dari 16 propinsi di tanah air tercatat pernah dirujuk dan ditangani Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalah Gunaan Napza Satria Purwokerto.  Selama tahun 2019,  sedikitnya 75 pasien ditangani di Balai Rehabilitasi Sosial ini, 10 pasien diantaranya berasal dari Cilacap. Selengkapnya, berikut laporannya.

Salah satu Unit Pelaksana Teknis Kementrian Sosial Republik Indonesia, Balai Rehabilitasi Sosial  Korban Penyalah Gunaan Napza Satria Purwokwerto, menjadi rujukan bagi korban penyalahgunaan obat tertarang berbahaya tersebut, untuk mendapatkan penanganan rehabilitasi sosial dengan baik . Bahkan, penanganan Korban Penyalahgunaan Napza ini tidak hanya datang dari wilayah propinsi Jawa Tengah, melainkan juga dari 15 propinsi lainnya, seperti  Jawa Timur,Jogjakarta, Bali, Nusa Tenggara Timur-NTT, Nusa Tenggara Barat-NTB Seluruh propinsi di Sulawesi, Maluku  dan Papua. Kepala Seksi Assisment dan Advokasi pada Balai Rehabilitasi Sosial Korban Penyalah Gunaan Napza Satria Purwokerto, Beny Edi Susanto, kepada Bercahaya FM Cilacap menyatakan, penanganan mererhabilitasi sosial dilakukan secara non fisik selama 4 bulan penuh, dengan target tidak boleh merokok dan zat aditif lainnya, serta terus menjalin Komunikasi.

Beny Edi Susanto menjelaskan,  sampai dengan posisi saat ini, sedikitnya 75 korban penyalahgunaan Napza ditangani secara intensif di Balai Rehabilitasi Sosial Napza Satri Purwokerto, dan 10 diantaranya berasal dari Cilacap. Selama 4 bulan menjalani rehabilitasi sosial, pasien melakukan berbagai macam kegiatan untuk mengisi waktu luang, seperti, baber shop, pembuatan roti, design grafis dan perbengkelan.  Melalui kegiatan profesional tersebut diharapkan , setelah keluar dari Balai dan dikembalikan kepada orang tua, mereka telah berubah dari kebiasaan buruk, seperti berbohong, mencuri, dan pasti terbebas dari kebiasaan penyalah gunaan narkoba dan bahan aditif lainnya.

Berdasarkan hasil pemantauan sekembalinya pasien dikembalikan kepada orang tua, sebagian dapat berkerja mandiri secara profesional, seperti menjual gorengan dan kue. Bersama orang tua,  menurut Benny piohak terus menjalin kemunikasi dan pengawasan, agar tidak kembali bergaul dengan komunitas lama para pengguna Napza. (4ng2id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *