Dihantam Pandemi, Ekspor Gula Semut Dari Cilacap Tersendat

CILACAP – Pandemi yang belum berakhir hingga saat ini berdampak pada sejumlah sektor. Salah satunya adalah usaha mikro, kecil dan menengah atau UMKM. Hal ini turut terjadi dikalangan pelaku UMKM komoditas ekspor Gula Semut di Kabupaten Cilacap.

Seperti yang dihadapi Basiran, seorang produsen Gula Semut asal desa Jetis, Kecamatan Nusawungu, Kabupaten Cilacap yang dalam dua bulan terakhir harus mengurangi stok dari para petani lokal. Dia melakukan ini lantaran 10 ton stok komoditas unggulan Gula Semut masih mengendap di gudang miliknya.

Ditanya soal kendala dalam ekspor dimasa pandemi, pihaknya mengungkapkan belakangan terjadi akibat melonjaknya biaya ekspor. Seperti sewa kontainer yang dinilai sangat memberatkan para pelaku UMKM di daerah.

“Kalau dari tradernya sekali kirim itu kami ada yang kena 100 juta untuk kontainer berukuran 25 feet,” ungkap Basiran.

Selain itu,  dari permintaaan pasar atau Buyer luar negeri dikatakan juga mulai berkurang dan menyebabkan jatuhnya harga Gula Semut. Yakni jika pada kondisi normal tiap produk mampu dijual mencapai 5 dollar, namun kini hanya dibandrol sekitar 2 dollar.

“Kami ekspor gula semut khas Cilacap ini belakangan ini sudah merambah pada wilayah ASIA maupun lainya. Diantaranya Turki, Brasil, Singapura, dan Amerika,” ungkap Basiran.

Ditanya mengenai nasibnya, Basiran saat ini hanya mampu menjual Gula Semut secara konvensional saja. Mulai dari ritel, online, maupun ke beberapa pasar lokal yang diakuinya hasilnya kurang optimal dari sebelumnya.

“Kalau untuk penurunan memang untuk saat ini, stok yang sudah ada buat makan ya kurang. Ada penurunan omset sekitar 60% sampai 70%. Kalau ada petani ya memang kami tetap beli karena kasihan mereka juga butuh makan,” kata Basiran.

Basiran  berharap, kondisi para pelaku UMKM saat ini dapat menjadi perhatian dari pihak dinas terkait. Tidak terkecuali dalam hal ini dinas DPKUKM maupun Pemerintah Daerah. Mengingat ekspor Gula Semut selama ini dianggap menjadi salah satu langkah yang baik untuk menggerakkan ekonomi mandiri di wilayah Kabupaten Cilacap.

“Kita sangat berharap kondisi menjadi normal seperti semula, transportasi ekspor dipermudah masuk dan keluar dari Indonesia, serta sewa kontainer yang harganya dapat kembali normal maupun birokrasi bea cukai, perijinan, dan perpajakan atau lainya untuk dapat dipermudah,” pungkasnya.

(Guruh)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *