Jejak – Jejak Sejarah Cilacap, Literasi Sejarah Untuk Bangsa Indonesia  

CILACAP – Masih minimnya literatur atau literasi tentang sejarah Cilacap, menginspirasi Thomas Sutasman yang merupakan seorang guru Matematika di SMP Pius Cilacap, untuk membuat karya tulis di dalam buku bertajuk ‘Jejak-jejak Sejarah Cilacap’.

Kelihaiannya menulis ini, ternyata sudah dilakukannya sejak lama. Diantarnaya melalui platform akun media sosial  Facebook miliknya dengan menerbitkan tulisan-tulisan kecil tentang jejak sejarah Cilacap. Setelah itu ia alihkan kegemarannya itu menjadi lebih profuktif, yakni mentransformasikan kedalam bentuk buku.

Hal ini menurutnya diperlukan, mengingat potensi atau kearifan lokal sebelumnya tidak terangkat ke permukaan, dan hanya menjadi diskusi-diskusi kecil di kalangan terbatas.

Dikonfirmasi Bercahaya FM, Thomas sendiri yang diketahui seorang pendatang dari Kulonprogo, Yogyakarta,  mengaku peduli terhadap kearifan lokal serta sejarah di Cilacap.

Ia juga ingin masyarakat Cilacap mengetahui sejarah daerahnya sendiri melalui Buku ‘Jejak-jejak Sejarah Cilacap’ ini. Sejumlah fakta menarik dari garis sejarah pun terkuak setelah dirinya menelusuri jejak jejak sejarah Cilacap dari berbagai sumber maupun pendekatan lainnya.

Seperti beberapa pahlawan dijaman perjuangan kemerdekaan yang belum terjamah secara mendalam dibeberapa literasi Nasional.

Dari penelusurannya, Thomas juga mendapati beberapa  cikal bakal sejarah suatu tempat, tokoh, maupun lainnya, ternyata ada di Cilacap.

“Sejarah itu sangat menarik serta hadir dengan banyak versi. Dari buku ini ada hal-hal menarik yang saya yakin belum diketahui oleh orang-orang, seperti John Lie, seorang pembersih ranjau di pelabuhan berpangkat Laksamana Muda, etnis China dan asli Manado,” katanya. 

Kemudian, lanjut Thomas, tiga intelektual Cilacap dengan pemikirannya luar biasa. Yaitu EA Masdar, Ny Suroso, dan Soekardjo Wirjopranoto. Soekardjo Wirjopranoto, dia pemimpin redaksi koran Asia Raja. 

“Dia pahlawan nasional asal Kesugihan, buah pikirannya luar biasa menjelang kemerdekaan RI dan tentang pegawai negeri. Cuma dua orang, yakni EA Masdar dan Ny Suroso tidak diketahui riwayat hidupnya,” terang Thomas.

Diakuinya bahwa buku yang ditulisnya laku keras, dan berencana akan kembali menyiapkan buku keduanya.

“Buku ini bahkan rencananya akan dicetak ulang dengan jumlah ribuan oleh Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Cilacap yang nantinya juga akan disalurkan ke berbagai perpustakaan sekolah di Cilacap. Ini sangat menarik dan saya sangat menantikannya, karena siswa akan dapat lebih memahami Cilacap melalui buku Jejak Jejak Sejarah Cilacap,” kata dia.

Thomas menjelaskan bahwa hasil dari penjualan buku ‘Jejak-jejak Sejarah Cilacap’ ini, 30 persen ia sumbangkan untuk Komunitas Tjilatjap History karena telah banyak berbuat untuk memunculkan kembali jejak-jejak sejarah Cilacap yang sempat hilang.

(Guruh)