Kecanduan Gadget Kakak Beradik Korbankan Sekolah

Perkembangan teknologi menyisakan sisi negatif bagi kalangan milenial seperti yang terungkap di wilayah Cilacap. Akibat kecanduan gadget, dua siswa kakak beradik memilih mengabaikan kegiatan sekolahnya.

Orang tua kedua remaja ini – Sugimanto saat ditemui Bercahaya FM menyampaikan, sudah sejak beberapa waktu terakhir, kedua anaknya tak lagi menggubris kegiatan sekolah. Karena kecanduan gudget ini, keduanya hampir setiap hari begadang hingga pagi. Sang kakak pertama bahkan sudah lama berhenti dari bangku SMK sedangkan adiknya berinisial F dan S pun hampir mengikuti. Sang adik yang sebenarnya siswa berprestasi ini sudah tidak lagi rutin pergi ke sekolah, termasuk menjelang ujian sekolah yang seolah diabaikan.

Sugimanto mengaku sudah berulang kali menegur dan menasehati kedua anaknya. Namun tetap saja tak digubris, bahkan kedua bocah lelakinya itu tidak bergeming dari bermain smartphone.

Tidak hanya pendidikan yang terabaikan, tetapi Sugimanto kini mulai mengkhawatirkan kesehatan dan masa depan kedua anaknya yang tiada henti bermain gadget. Lebih lanjut, pihak sekolah juga telah mencoba membujuk dan datang menjemput keduanya untuk berangkat ke sekolah.

“Gurunya kadang njemput, kalo jam 10 pagi tidak berangkat sekolah biasanya gurunya datang karena merasa perihatin dengan potensi kecerdasaan anak ini,” jelas dia.

Saat Bercahaya FM berkunjung kerumahnya siang tadi, kedua anak Sugimanto sedang tidak berada di rumah.

Sugimanto berharap segera ada pihak yang dapat mengatasi persoalan yang kini dihadapinya, sehingga kedua anaknya kembali berperilaku normal dan menjalankan tugas kewajibannya sesuai usianya.

Dinas KB PPPA Kabupaten Cilacap melakukan upaya peninjauan dan pendataan

Sementara Kasi Peningkatan Kualitas Hidup Anak – KHA pada Dinas Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Cilacap – Nurhayani mengatakan, fenomena kecanduan gadget yang dialami kakak beradik tersebut, merupakan hal baru yang ada di Cilacap.

Menurutnya, kasus ini harus segera ditangani dan kemunculannya tak perlu untuk disembunyikan. Justru bisa dijadikan pelajaran bagi siapapun untuk mengantisipasi dampak negatif dari perkembangan teknologi. Katanya, kasus ini harus menjadi kewajiban dan tanggung jawab bersama terhadap keberlangsung, perkembangan maupun pendidikan pada anak.

Sedangkan upaya yang diberikan saat ini baru tahap awal verifikasi dengan sejumlah pengenalan program pembimbingan pada keluarga yang bersangkutan.

“Fenomena kecanduan gadget ini merupakan hal baru dan nanti kita jadikan laporan kepada kepala bidang kami, sehingga cepat tertangani dengan penanganan yang tepat. Terlebih anak sebagai korban memiliki tanggung jawab baik kepada keluarga, pendidikan, maupun beribadah yang tidak boleh dikalahkan dengan gadget,” imbuhnya. (guruh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *