Lima Bulan Berjalan, Guru Penggerak Lakukan Refleksi

Setelah lebih dari lima bulan berjalan, sebanyak 74 peserta Pendidikan Guru Penggerak (PGP) Kabupaten Cilacap melakukan refleksi kompetensi dalam Lokakarya ke 5 PGP yang dihelat di dua tempat, Sabtu (1/5/2021).

Bertempat di Hotel Atrium dan Fave Cilacap, para peserta dengan tetap menerapkan protokol kesehatan ketat, melakukan refleksi PGP dengan para pendamping yang difasilitasi oleh P4TK Matematika Kemdikbud.

Menurut Ketua Agen Perubahan Guru Penggerak P4TK Matematika Kamdikbud Yuliawanto selaku penanggungjawab kegiatan, selama lima bulan berjalan, para Calon Guru Penggerak Kabupaten Cilacap cukup memenuhi ekspektasi pemerintah. Mereka sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan dan di level nasional, para CGP di Kabupaten Cilacap relatif pesat perkembangannya.

“Ini kabupaten terbesar di Jawa Tengah, dengan potensi Calon Guru Penggerak yang ada, berdasar refleksi yang kami lakukan, mereka menunjukan kemajuan yang menggembirakan” jelas Yuliawanto.

Kemajuan tersebut, tambahnya, dapat dilihat dari pembelajaran berdiferensiasi yang sudah banyak dipraktikkan, membangun kolaborasi dengan seluruh ekosistem sekolah dan juga menerapkan budaya positif di sekolah.

“Adapun untuk kepemimpinan pembelajaran, saat ini mereka masih taraf mempelajari modul. Mereka memang nantinya akan diambil menjadi calon kepala sekolah dan juga pengawas sekolah, sehingga harapannya nanti mereka sudah matang ketika lulus dari program ini empat bulan ke depan” harap Yuliawanto.

Salah satu pemateri Lokakarya yang juga Pendamping Guru Penggerak Rustanto mengungkapkan, proses refleksi perlu dilakukan pada pertengahan program. Menurutnya, hal itu dilakukan agar empat bulan tersisa masih dapat digunakan untuk membenahi hal-hal yang belum baik dalam pelaksanaan program sebelumnya.

“Ada pepatah bahwa belajar tanpa refleksi itu sia-sia dan refleksi tanpa belajar itu berbahaya. Para Calon Guru Penggerak sudah melaksanakan separuh program. Mereka harus membenahi apa yang belum sesuai dan meningkatkan kompetensi yang sudah baik. Ini budaya yang bagus, melakukan refleksi di pertengahan program” jelas Rustanto.

Salah satu peserta lokakarya Munofa Khoeron Rizoq mengaku kegiatan ini sangat penting karena menjadikan dirinya tahu pencapaian kompetensi yang dimilikinya.

“Saya jadi tahu kekurangan dan kelemahan yang saya alami selama menjalankan program ini, dan dari hasil diskusi dengan peserta lain saya menjadi punya solusi. Saya pikir ini hal yang penting dijalani oleh Calon Guru Penggerak” ujar Munofa.

(Guruh)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *