Musim Kemarau Nelayan Menjerit

Terhitung sudah sekitar tiga bulan terakhir, kalangan nelayan Cilacap merasakan musim paceklik seiring dengan datangnya musim kemarau. Kondisinya diperparah dengan cuaca di Perairan yang tidak bersahabat untuk aktifitas nelayan. Gelombang tinggi disertai angin kencang ini yang menyebabkan sebagian besar nelayan memilih menggantungkan peralatan melautnya. Akibatnya, kalangan nelayan kelimpungan karena tak memiliki penghasilan untuk menghidupi keluarganya.

Ketua Kelompok Nelayan Pandanaran Cilacap – Tarmuji mengatakan, kondisi tersebut dirasakan sejakĀ  datangnya musim kemarau. Musin ini katanya membuat perubahan pada suhu perairan maupun cuaca di Cilacap yang menyebabkan tangkapan nelayan berkurang bahkan hilang.

Ia menggambarkan, untuk mendapatkan jenis ikan Layur, nelayan harus mencapai jarak 10 mil dari bibir pantai, dan hanya bisa menggunakan pancing. Sementara dari beberapa jenis komoditas ikan unggulan seperti Bawal Putih, bahkan untuk saat ini katanya tidak ditemui di perairan Cilacap.

Sementara nelayan yang tetap nekat melaut, harus menghadapi resiko tinggi dan resiko tidak mendapatkan hasil apapun. Yang ada katanya justru hanya menyisakan beban ongkos operasional mereka setiap melaut.

“Dari puluhan kapal nelayan yang nekat melaut, dapet paling ga seberapa dan itu ga pernah masuk tonase. Kebanyakan yang libur melaut mereka beralih profesi untuk sementara. Ada yang memperbaiki alat tangkapnya, kemudian ada juga yang membantu istrinya jual ikan asin dan bahkan jadi kuli,”jelasnya.

Tarmuji berharap, ada perhatian dari pemerintah melalui dinas terkait untuk mengatasi kondisi paceklik yang dirasakan kalangan nelayan Cilacap.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *