Perpustakaan Berbazis inklusi Sosial dihadapkan rendahnya minat Baca

Pengembangan perpustakaan berbazis inklulsi sosial yang diharapkan mampu mendorong terwujudkan kesejahteraan  masyarakat, justru kini dihadapkan dengan  persoalan rendahnya minat baca masyarakat. Padahal, disiyaratkan dalam perkembangannya perpustakaan tidak hanya dijadikan pusat baca masyarakat, melainkan juga dijadikan ruang  sinergitas kegiatan masyarakat untuk saling berbagi pengalaman dan melatih ketrampilan.

Masih Rendahnya budaya membaca baca masyarakat menjadi salah satu masalah krusial yang dihadapi bangsa Indonesia dalam upaya nasional mewujudkan SDM unggul menuju Indonesia Maju. Berdasarkan hasil berbagai survey menunjukkan budaya atau literasi membaca masyarakat  masih rendah. Bupati Cilacap dalam sambutan tertulis dibacakan Asisten Administrasi pada Sekretarit Daerah-Setda Kabupaten Cilacap Uong Suparno, pada acara Safari Gerakan Nasional Pembudayaan Kegemaran Membaca di Graha Pemuda Cilacap Kamis pagi mnyatakan, dari hasil survey masyarakat Indonesia lebih senang memilih menonton televisi,  mendengarkan radio, bermain game  dan internetan ketimbang membaca buku. Akibatnya Indonesia berada pada peringkat 124 dari 187 negara, jika dilihat dari penilaian Indeks Pembangunan manusia_Human Development Index.  Karena melalui forum pertemuan ini diharapkan da[pat dicarikan formulasi dan solusi yang tepat, guna menunbugkan minat baca masyarakat.

Dengan adanya upaya pemerintah untuk merubah formasi kebijakan literasi membaca berbasiz inklusi sosial, maka perpustakaan harus mampu menfasilitasi masyarakat dalam mengembangkan potensinya, serta mampu menawarkan kesempatan berusaha, dengan menyediakan bahan perpustakaan  dan informasi bermutu yang mudah diakses masyarakat serta menjadikan ruang  sinergitas kegiatan masyarakat untuk saling berbagi pengalaman dan mela tih ketrampilan.  Hal senada diakui, Kepala Pusat Reservasi Bahan Pustaka Republik Indonesia, Ahmad Maskuri ketika ditanya wartawan menjelaskan, transformasi perpustakaan berbazis Inklusi masyarakat, berarti perpustakaan harus bersinergi dengan instansi, lembahga maupun instutisi lainnya dengan tujuan akhir mewujudkan kesejahteraan masyarakat. Perpustakaan tidak semata menyediakan fasilitas fisik, berupa buku dan gedung maupun  buku elektronik, melainklan juga dintutut mampu menyelenggarakan  workshop dan pelatihan ketrampilan tertentu maupun keahlian publikasi, promosi dan pemasaran.

Sementara itu, Kepala Dinas Kearsipan dan Perpustakaan Kabupaten Cilacap, Supriyanto mengakui, untuk mewujudkan percepatan literasi hgemar membaca masyarakat, selain menyediakan fasilitas fisik maupun  fasilitas buku elektronik melalui e-Perpuda, juga dilaksanakan beragam kegiatan yang bersinggungan langsung dengan masyarakat di perdesaan. Karena  ya diperlukan program yang lebih membumi atau diistilahkan down to erth. Untuk itu pihaknya bersinergi dengan pemerintahan desa dalam pengembangan perpustakaan berbasiz inklusi sosial ini, melalui kegiatan yang dialokasi dari Anggaran Dana Desa  . Supriyanto mengakui,  di tahun 2019 ini sedikitnya 16 desa di wilayah Kabupaten Cilacap, telah mengembangkan perpustakaan desa menambah perpustakaan desa yang sudah terbentuk sebelumnya menjadi sebanyak 56 Perpustakaan Desa. (4ng2id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *