Persagi Cilacap Targetkan Turunkan Prevalensi Stunting Hingga 10 Persen

Salah  satu masalah gizi yang  sedang dihadapi Indonesia   saat ini adalah stunting atau pertumbuhan kerdil. Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar atau Riskedas 2013 menunjukkan prevalensi stunting mencapai 37,2 persen. Sedangkan Kabupaten Cilacap 36,3 persen dan tahun 2018 prevalensi stunting 32,1 persen.

Data lain hasil Pemantauan Status Gizi atau PSG tahun tahun 2017 menurun menjadi 22,8 persen. Prevalensi stunting di Kabupaten Cilacap dinilai cukup tinggi yaitu lebih dari 20 persen standar WHO. Praktis  kondisi tersebut menjadi ancaman terhadap tumbuh kembang yang tidak optimal pada masa yang akan datang.

Stunting  atau pertumbuhan kerdil disebabkan karena kekurangan gizi kronik yang  terjadi sejak bayi dalam kandungan dan pada masa awal anak lahir, stunting baru nampak setelah anak berusia 2 tahun atau 1000 Hari Pertama Kehidupan. Demikian disampaikan Plt Kepala Dinas Kesehatan Cilacap –  Dian Setyabudi pada pembukaan Bakti Sosial DPC Persagi pada Hari Kesehatan Nasional ke – 55 di Pendopo Panembahan Tunggul Wulung – Jeruklegi, Rabu (06/11/19) .

Menurutnya, penanganan  stunting di Kabupaten Cilacap mengacu pada meningkatnya peran multisektor dalam percepatan penurunan prevalensi stunting melalui penangan spesifik dan sensitif dengan  5 pilar  penanganan  stunting. Yakni komitmen dan visi pimpinan tertinggi negara, kampanye nasional berfokus pada pemahaman, perubahan     perilaku, komitmen politik dan akuntabilitas. Kemudian konvergensi,  koordinasi,  dan  konsolidasi  program  nasional,  daerah,  dan masyarakat. Tak terkecuali mendorong kebijakan akses pangan bergizi, pemantauan   dan evaluasi. Dian menambahkan, DPC Persagi merupakan organisasi profesi yang selalu berupaya ikut serta di dalam meningkatkan kesehatan masyarakat.

“Prevalensi Stunting di Kabupaten Cilacap masih diatas WHO olehkarenanya kita harus terus bekerja keras dan berupaya untuk menekannya. Salah satunya melalui peran serta dari Persagi Kabupaten Cilacap sebagai ujung tombak pencegahan dan pengentasan Stunting, yang selama ini sudah mendampingi masyarakat,”ungkapnya.

Sementara itu Ketua Panitia Baksos DPC Persagi – Yeni Magdalena mengatakan, ada sekitar 200 orang yang terlibat dalam acara tersebut. Mereka berasal dari kader kesehatan di 13 desa di Kecamatan Jeruklegi. Masing-masing desa sebanyak 10  kader Posyandu dan seluruh anggota PERSAGI DPC Cilacap.

“Terkait pengentasan stunting di Jeruklegi,   di tahun 2020 mendatang ditargetkan dapat diturunkan jumlahnya menjadi 10 persen dari temuan pada timbangan serentak sebelumnya, yang mencapai 15 persen,” pungkasnya.

(guruh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *