PJJ, Kualitas Pembelajaran Guru Harus Di Dongkrak Dengan ‘PAKSA’

CILACAP – Para tenaga pendidik, melaksanakan pembelajaran jarak jauh lewat media online seperti Whatsapp, Google Meet, Google Form dan lainnya. Namun demikian sistem ini perlu teknik pembelajaran yang khusus agar dapat diterapkan. Evaluasi kebijakan perlu dilakukan untuk mengevaluasi sistem pembelajaran jarak jauh yang selama ini dilaksanakan di sekolah pada semua jenjang pendidikan.

Peran kepala sekolah dalam mendorong para tenaga pendidik untuk melek iptek di masa pendemi ini merupakan salah satu unsur penting dalam pelaksanaan pendidikan jarak jauh ini. Seperti yang dilakukan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kawunnganten Cilacap, Narjo, S.Pd., M.Pd.

Kepala Sekolah merangkul semua stakeholder, membuat sebuah inovasi ‘PAKSA’ Mendongkrak Kualitas Pembelajaran Guru dimasa pandemi Covid – 19 di SMP Negeri 3 Kawunganten kabupaten Cilacap. Narjo mengatakan, PAKSA ialah akronim dari Pray (Doa), Attitude (Sikap), Knowladge (Pengetahuan), Skill (Kemampuan) dan Action (Tindakan).

Narjo menjelaskan, Pray atau Doa ialah pondasi dalam menjalani kehidupan harus memiliki kehidupan religius yang baik, keyakinan yang kuat, pola pikir yang benar dan mandset yang berwawasan kedepan, sehingga kehidupan kita akan berkenan di hadapan sang pencipta.

“Konsep PAKSA yang ke dua ialah attitude, Kepala Sekolah selalu mengingatkan guru dan para siswa untuk selalu memakai masker, mencuci tangan memakai sabun, dan menjaga jarak dalam berinteraksi serta kebersamaan. Sementara yang ketiga ialah Knowladge atau pengetahuan yang baik, pada masa pandemi Covid – 19 banyak sekali pengetahuan yang bisa di dapatkan atau diakses. Knowladge di dapat dari 3 M, yakni Membaca Buku, Mendengarkan atau menyaksikan video tentang pembelajaran dan menghadiri pertemuan – pertemuan ilmiah,” Jelas Narjo.

Skill atau kemampuan yang memadai, guru dan siswa terus belajar agar terampil dalam memanfaatkan teknologi. Sementara konsep PAKSA yang terkahir ialah Action atau tindakan yang baik, Kepala Sekolah dan guru harus mampu memberikan teladan dalam pola pikir dan pola tindak yang baik, sehingga perilaku dan tindakan kita akan diikuti oleh para siswa.

Kepala Sekolah SMP Negeri Kawunganten Narjo S.Pd., M.Pd. bersama siswa (dok. sebelum pandemi)

Sebelumnya, para tenaga pendidik di SMP Negeri 3 Kawunganten mendapatkan berbagai kendala dalam menjalankan pembelajaran jarak jauh, diantaranya hampir 40 sampai 50 persen siswa tidak dapat mengikuti pembelajaran daring karena banyak siswa yang tidak memiliki gawai sendiri.

“Dilihat dari segi ekonomi juga, orang tua siswa sekitar 60 persen berada pada tingkat menengah kebawah, di tambah dengan rendahnya pendidikan mereka bahkan masih ada orang tua siswa yang tidak bisa baca tulis, tentu sangat sulit bagi mereka untuk mendampingi anak belajar online atau daring,” jelasnya.

Permasalahan lain yang dihadapi yakni masih rendahnya kompetensi guru dalam melaksanakan pembelajaran daring atau jarak jauh. Selain itu,  masih banyak guru yang gaptek atau tidak menguasai tekhnologi dalam pembelajaran.

“Sebenarnya, sekolah juga sudah melaksanakan visitasi leraning atau  guru keliling, namun ternyata banyak juga kendala yang dihadapi, seperti  medan yang dilalui untuk menuju rumah siswa sulit, jarak rumah siswa yang saling berjauhan, dan juga di rumah – rumah siswa, tidak di menerapkan protokol kesehatan,” kata Narjo.

Dalam best practice yang di paparkan oleh Kepala Sekolah SMP Negeri 3 Kawunganten Cilacap, Narjo berharap, dengan keteladanan seorang guru dalam mewujudkan profil pelajar pancasila ini, akan dilihat kemudian di pelajari dan diikuti oleh para siswa.

(Berita/Intan/BercahayaFm)