Semangat Ngabiyah Kartini Masa Kini Dalam Membangun Kemandirian

Bila berbicara tentang emansipasi wanita, benak kita langsung terbayang sosok Raden Ajeng Kartini, salah satu pahlawan wanita nasional Indonesia. Memang, Kartini sangat identik dengan sanggul dan kebaya yang menjadi ciri khas pahlawan wanita asal Rembang Jawa Tengah ini. Namun, bukan hal tersebutlah yang membuatnya mampu dikenang bangsa ini, melainkan buah pemikirannya dalam memperjuangan kaum wanita agar memperoleh kebebasan, otonomi dan persamaan hukum sebagai bagian dari gerakan yang lebih luas.

Semangat perjuangan seorang wanita, dapat dinilai dan diukur dengan berbagai cara. Di Cilacap, ada sosok perempuan paroh baya yang memberi gambaran kepada kita tentang perjuangannya untuk menghidupi keluarga, dengan hanya berjualan kue serbi. Berikut simak hasil laporan Tim Bercahaya FM dalam sosok Kartini Masa Kini .

Hari ini, bertepatan dengan momen Hari Kartini yang jatuh setiap 21 April, diharapkan semangat emansipasi wanita dalam wujud kemandirian selalu terpatri dalam benak para perempuan tangguh masa kini. Hari Kartini tak hanya lagi diperingati secara seremonial semata, melainkan momen yang tepat untuk tumbuh bersama dalam emansipasi membangun kemandirian demi menggapai kesejahteraan hidup.

RA Kartini dikenal sebagai perempuan tangguh yang memiliki keinginan kuat untuk menjadikan perempuan bangsa cerdas, mandiri, serta mampu mengatasi berbagai persoalan dalam hidup. Buah pemikiran dan perjuangannya tersebut kini dapat kita lihat pada sosok perempuan tangguh bernama Ngabiyah berusia 59 tahun.

Terik matahari yang begitu panas siang itu tak menyurutkan langkah Ngabiyah, dalam menjajakan serabinya di sudut trotoar jalan Suprapto Cilacap.
Berbekal adonan tepung beras dan alat pemanggang sederhana dari tanah liat berbahan bakar kayu. Ngabiyah nampak bersemangat menjalani rutinitas harianya, setelah menjalankan Solat Subuh hingga menjelang siang. Bukan tanpa sebab, wanita paruh baya ini sehari-hari membanting tulang berjualan kue serabi, semua dilakukan demi membantu memenuhi kebutuhan keluarganya tercinta.

Bagaimana tidak, sang suami sudah lama meninggalkanya sejak anak bungsunya masih kecil. Kondisi perekonomian yang jauh dari kata cukup, memaksanya berjuang keras mencari nafkah dengan menggeluti usaha kue Serabi.

Sampai saat ini usaha yang ditekuninya Ngabiyah sudah berjalan selama 31 tahun. Sedikit demi sedikit, ia mulai bisa menabung, hingga berjalan kaki yang dilakoninya bertahun-tahun kini telah tergantikan dengan sebuah sepeda motor yang ia beli dari hasil tabungannya. Bahkan hasil jerih payah tersebut, Ngabiyah pun kini dapat mencukupi kebutuhan dapur dan membawa ke empat anaknya tamat sekolah dan sukses.

Dalam momen peringatan Hari Kartini ini, Ngabiyah sempat menyelipkan sekelumit pesan agar kaum wanita tetap tegar dan selalu mengutamakan rasa syukur dalam keadaan apapun.(gr)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *