Terekam Kamera Trap, Populasi Macan Kumbang di Nusakambangan Diyakini Bertambah

Pengendali Ekosistem Hutan – Teguh Arifyanto

CILACAP – Kawasan konservasi cagar alam Pulau Nusakambangan selain menjadi tempat bertumbuhnya berbagai tanaman endemik, ternyata menjadi tempat tinggal sejumlah satwa liar dilindungi. Salah satunya adalah macan kumbang.

Baru – baru ini, dua macan kumbang atau macan tutul jawa (Panthera pardus melas) di Pulau Nusakambangan kembali terpantau kamera trap yang dipasang oleh BKSDA Jateng Seksi  Konservasi Wilayah II Pemalang RKW Cilacap.

Dikonfirmasi tim Pemberitaan LPPL Radio Bercahaya FM, Kepala Resort (RKW) Cilacap – Dedi Rusyanto, melalui Pengendali Ekosistem Hutan – Teguh Arifyanto membenarkan, bahwa  hasil dari monitoring melalui kamera trap yang dipasang, telah merekam satwa eksotis tersebut pada 18 Maret 2021 lalu.

“Jadi memang kemarin kami sempat mendapatkan hasil kamera trap terbaru dari aktifitas dua macan kumbang Nusakambangan,” kata Teguh.

Lebih lanjut, dia mengungkapkan, bahwa berdasarkan pemantauan selama kurun tiga tahun terakhir, populasi satwa eksotis tersebut diyakini bertambah jumlahnya.

“Kalau di tahun 2019 sempat juga terpantau kamera trap dan dari pendataan ada 15 ekor macan kumbang. Sementara sejauh ini berdasarkan hasil survey bersama FFI kami sudah mendapatkan setidaknya hewan yang sama dengan jumlah sekiar 18 ekor. Ini secara jelas kami katakan karena memang ada tim yang benar – benar mengamati setiap individu dari hewan tersebut dan bisa saja jumlahnya lebih dari yang terpantau kamera.” ungkapnya.


Menurut Teguh,  belasan ekor macan kumbang yang tertangkap kamera tersebut tersebar di sejumlah titik dari mulai ujung Timur daerah Karang Tengah, Karang Bandung hingga daerah tengah perbatasan kawasan yang menjedi kewenangan Kementerian Hukum dan Ham. Namun, dari hasil pemantauan di lapangan, aktivitas satwa liar dilingungi tersebut, katanya tidak berinteraksi dan mengganggu aktivitas di LP Nusakambangan.

“Selama ini macan kumbang pernah muncul dilingkungan penduduk, itu diketahui setelah adanya laporan warga yang hewan peliharaannya berupa anjing ditemukan mati lantaran lehernya diterkam macan kumbang,” imbuhnya.

Teguh menyatakan, sejauh ini penduduk sudah mendapatkan sosisalisasi mengenai keberadaan satwa eksotis ini. Diantaranya untuk tidak melakukan hal anarkis yang menyebabkan kematian pada hewan dilindungi tersebut.

“Yang jelas macan kumbang ini adalah satwa yang dilindungi negara sesuai UU no 41 tahun 1999 dan UU no 5 tahun 1990. Kami sudah sosialisasikan ini ke penduduk, dan ada juga mereka yang mengenakan pelindung gerigi pada leher peliharaan mereka, tentunya untuk mencegah dari adanya serangan macan kumbang,” pungkasnya.

Untuk diketahui, Pulau Nusakambangan selain dikenal sebagai lokasi Lembaga Pemasyarakan bagi narapidana kelas berat, dalam Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Nasional ditetapkan sebagai Kawasan Konservasi Cagar Alam . Kawasan Cagar Alam Nusakambangan terbagi menjadi dua wilayah yakni Barat dan Timur dengan memiliki kekayaan flora dan fauna. Selain aneka tumbuhan, kawasan Cagar Alam Nusakambangan menjadi habitat hewan liar, seperti elang laut, monyet ekor panjang, lutung, aneka jenis burung,  babi hutan, biawak dan spesies macan.

(Guruh)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *