Asupan Garam Beryodium Rendah, Salah Satu Penyebab Angka Stunting Tinggi Di Kabupaten Cilacap

CILACAP – Masih beredarnya garam yang tidak mengandung yodium, serta cara penyimpanan dan cara penggunaan yang belum benar, menjadi salah satu penyebab masih tingginya angka stunting di Kabupaten Cilacap.

Prevalensi stunting di Kabupaten Cilacap saat ini diangka 4, 93 persen. Untuk mengatasi stunting, Pemkab Cilacap bersama seluruh elemen terkait terus mendorong dan mengedukasi masyarakat agar meningkatkan konsumsi garam beryodium.

“Pembinaan dan pelatihan ini masih tetap diperlukan, tapi Tim GAKY silahkan berkreasi dengan kemasan kegiatannya. Ini perlu di lakukan secara intens dan continue tentunya dengan materi – materi yang menarik berkesinambungan,” Hal itu di sampaikan Sekretaris Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Kabupaten Cilacap Edy Supriyono, S.Sos, MM, saat memberikan sambutan pada kegiatan Deseminasi hasil Pelaksanaan Pembinaan dan Monitoring Konsumsi Garap Beryodium di 10 Lokus Stunting Kabupaten Cilacap tahun 2021 (18/11/21).

Edy menambahkan, bahwa penanganan stunting bukan hanya di 10 Lukos stunting saja, namun dari 284 desa/kelurahan di Kabupaten Cilacap harus juga di perhatikan. “Jadi fokus kita memang oke , kita punya 10 lokus stunting, tetapi dari 284 desa/kelurahan itu harus di perhatikan juga, jangan – jangan yang 10 lokus ini hilang, tetapi pindah di daerah lain,” Ucap Edy.

Dari Hasil Pemantauan Garam di 10 Desa/kelurahan lokus stunting, masih di temukan beberapa merk yang tidak mengandung yodium, antara lain merk BBO (Briket), BLM (Briket) serta Krosok. Untuk itu, Edy meminta,  toko ataupun di tempat yang menjual garam untuk di tempel stiker  dengan tulisan produk garam dengan merk tertentu tidak mengandung yodium.

“Ketika menemukan produk garam dengan merk tertentu tidak beryodium, pasang stikernya di situ, garam merk BBO, BLM ini tidak mengandung yodium, tempel di toko, tempel di balai desa nanti biar jelas produsennya itu. Kalau cuma ngomongin bakulnya atau tokonya, ojo dodolan kui, ya kalu ada  tim kesana diumpetin, kalau engga ya dijual lagi, mungkin kan harganya lebih murah dari pada yang beryodium,” jelasnya.

Edy berharap, kedepan produksi garam dari Kabupaten Cilacap bisa berstandar nasional, oleh karena itu, para produsen garam di Cilacap perlu belajar ke daerah lain seperti di Kabupaten Pati sebagai daerah produksi garam beryodium yang sudah  berstandar Nasional. Sehingga nantinya Kabupaten Cilacap tidak lagi harus mendatangkan garam beryodium dari daerah lain, karena potensi Cilacap cukup bagus.

Sementara, Kepala Bidang Pemerintahan Dan Kesra Bappeda Cilacap Amin Muhtada S.KM., M menyampaikan,  10 desa/kelurahan lokus stunting di Kabupaten Cilacap antara lain di Desa Pengadegan Kecamatan Majenang dengan jumlah kasus 52 (25,37%), Desa Mandala Kecamatan Jeruklegi sebanyak 12 kasus (36,36%), Kecamatan Cipari yang meliputi Desa Cipari 124 kasus (20,70%), Desa Kutasari 132 (35,58), Desa Serang 91 kasus (28,44%), Desa Caruy 77 kasus (24,44%), Desa Sidasari 71 kasus (24,15%), Desa Karangreja 52 kasus (23,01%), Desa Cisuru 69 kasus (21,41), serta Desa Pegadingan 57 kasus (19,79%). (tan/bercahayafm)

dok : google