Ditargetkan Percepatan Tanam 70 ribu Hektar

Dinas Pertanian Cilacap bakal menerapkan sistem sebar pethuk untuk menggenjot program percepatan tanam Okmar atau bulan bulan Oktober – Maret dengan merealisasikan target pada 70 ribu hektar. Wilayah potensial menjadi sasaran penerapam sistem sebar pethuk, seperti Adipala, Kroya, Sampang, Binangun dan Maos.

Kabid Tanaman Pangan pada Dinas Pertanian Cilacap – Ermawati Syahyuni mengatakan, percepatan tanam ini untuk mendukung program swasembada pangan melalui upaya khusus atau Upsus dengan fokus tiga komoditas, yakni padi, jagung, dan kedelai – Pajale. Dalam penerapan sistem sebar pethuk tersebut, sebelum masa panen, para petani sudah lebih dulu melakukan penyebaran benih. Sehingga pada saat panen dan olah tanah hasil sebaran dapat segera dipindahkan. Sistem ini dinilai menghemat waktu para petani dan menjaga kestabilan harga hasil panen tidak anjlok.

“Bisa lebih menghemat waktu 21 hari kalo mereka mau menerapkanya. Contohnya Binangun, kemudian Sampang itu di Karangtengah Paketingan, kalo Maos di Mrenek sudah mulai. Ini ya harganya cukup bagus kalo dari tahun kemarin saja bisa sampai lebih dari 4.500 rupiah,” ungkapnya.

Seperti diketahui, sebelumnya pemerintah melalui Kementerian Pertanian memiliki program upaya khusus – upsus untuk swasembada pangan. Kala itu program digenjot dalam tiga tahun sejak 2015, dengan fokus tiga komoditas, padi, jagung, dan kedelai atau pajale. Upsus ini untuk mewujudkan kedaulatan pangan nasional. Tidak hanya meningkatkan luas tanam, tetapi produktivitas daerah sentra-sentra pangan ikut ditingkatkan.

Sementara itu program percepatan tanam melalui sistem sebar pethuk dinilai sejumlah petani Cilacap cukup efektif, terutama dalam menjaga stabilitas harga seperti disampaikan seorang petani di wilayah Adipala bernama San Sukardi.

Ia mengakui mendapat penjualan hasil panennya yang menggembirakan. Katanya, disamping menggunakan percepatan tanam, program subsidi dari pemerintah adalah dukungan yang dirasa tepat untuk menjaga stabilitas harga gabah.

“Kalo petanikan dari pembeli ke pembeli harganya Rp 4.700, Pernah turun tapi sekarang jarang karena harga sudah disubsidi disamaratakan, biarpun lagi panen gak terlalu dikurangi,” katanya.

Sukardi berharap agar produktifitas petani dibarengi dengan optimalisasi pembangunan infrastruktur yang memadai, seperti pada sistem jaringan irigasi. (guruh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *