Gelar Townhall Meeting, GM Pertamina RU IV Cilacap Ajak Pekerja Bisa Merubah Konsep Masa Lalu Dengan Pemikiran Baru

Awal tahun 2020, Pertamina Refinery Unit IV Cilacap menorehkan banyak prestasi. Sebut saja penghargaan sebagai kilang terbaik dari 6 unit kilang milik Pertamina lainnya, berhasil mencapai target International Sustainability Rating System (ISRS) seri 8 level 7, serta berhasil meraih proper emas. Namun, menurut General Manager Pertamina RU IV, Joko Pranoto, capaian itu belumlah cukup dijadikan bekal menuju persaingan kilang internasional.

Menurut Joko, situasi ini harus disadari segera dengan melakukan benchmark terlebih dahulu, sebagai komparasi antara kilang satu dan lainnya di seluruh dunia.

“Dengan realisasi OPEC 82%, performa operasi pengolahan bagus, total yield juga tercapai, refinery cost per barrel juga baik, lalu secara operasional di akhir bulan September ini KPI tercapai, bahkan kami optimis hingga akhir tahun KPI bisa tetap bertahan pada label hijau, sudah seharusnya Pertamina dapat masuk ke level internasional,” paparnya saat menggelar town hall meeting dengan seluruh pekerja via daring, akhir pekan lalu. 

Namun demikian masih menurut Joko, pencapaian tersebut ternyata tidak diimbangi dengan nilai keuntungan.

“Inilah permasalahan yang kini dihadapi RU IV, makanya kita butuh kreativitas berpikir,” ujar orang nomor satu di RU IV ini.

Dikatakannya, pekerja Pertamina harus memiliki cara berpikir yang berbeda supaya dapat menemukan peluang lebih dari hasil yang telah dicapai selama ini.

“Kita harus berani keluar dari zona nyaman, jangan cepat puas. Kalau kita mampu mengeluarkan kreativitas yang ‘lebih’ lagi, saya yakin seluruh unit kilang milik Pertamina akan menjadi luar biasa. Karena dengan kemampuan melatih kreativitas dan menggabungkan knowledge, hasilnya akan menjadi output baru yang jauh lebih hebat,” tegasnya.

Ajang sosialisasi yang diikuti melalui aplikasi M-teams ini berlanjut pada proses bisnis kilang RU IV yang memiliki tugas mengolah crude dari hulu, baik crude lokal Indonesia maupun crude import. Menyesuaikan dengan aturan baru, maka Pertamina dituntut untuk memaksimalkan pengolahan crude lokal yang diproses di kilang Cilacap. Tidak hanya itu, hasil produknya juga harus dikirim melalui Pertamina Marketing Operation Region (MOR).

“Jadi secara bisnis Pertamina harus bisa menghadapi tantangan demand. Jika demand bagus maka operasional lancar, namun jika demand menurun? jawabnya sama, seluruh proses bisnis Pertamina juga tetap harus berjalan dengan normal,” jelasnya. 

Hal ini tentu harus disiasati. Semua pekerja di RU IV, kata Joko, harus mulai berubah untuk tidak hanya sekedar memikirkan produksi saja, tapi harus bisa berpikir mengenai proses bisnis Pertamina. Maka itu dituntut kreativitas dengan inisiatif-inisiatif baru.

“Meski ada korelasinya, kinerja operasional yang bagus tidak menjamin kinerja finansial menjadi bagus, ada variable lain yang dibutuhkan selain strategi supaya dapat seirama antara operasional dan finansial,” katanya.

Lanjut Joko, yang dapat dilakukan misalnya ketika bahan baku mahal dan produk sudah terkunci kapasitasnya, maka bisa dikembangkan produk baru yang nilainya lebih mahal. Seperti yang sudah dilakukan RU IV saat ini dengan produksinya Pertadex dan Pertamax yang diolah secara berkelanjutan.

“Cara lain misalnya saat harga crude mahal, jangan olah crude banyak untuk dijadikan produk primary, tapi bisa dimaksimalkan saja menjadi secondary produk,” jelasnya.

Tentu ini, menurut Joko, tidak mudah bagi para pekerja fungsi operasi yang harus bisa merubah konsep masa lalu dengan pemikiran baru. Namun ekspektasi masa depan yang dikatakan GM RU IV ini, masih bisa dimainkan dengan pola baru melalui optimasi pada stok dan produk, secara fleksibel.

“Saya kira ini menarik, agar negara mendapat keuntungan, begitu juga Pertamina,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *