Kekerasan Pada Anak Meningkat Di Masa Pandemi, Ini Respon Dinas KB PPPA Cilacap

CILACAP – Kasus kekerasan pada anak di Kabupaten Cilacap dalam masa pandemi Covid-19 dinilai meningkat. Berdasarkan data yang ada di Pusat Pelayanan Terpadu (P2TP2A) CITRA Kabupaten Cilacap, dalam setahun terakhir ini, terdapat  90 kasus dengan jumlah korban mencapai 109 orang. Kemudian pada tahun 2020 terdapat  98 kasus dengan jumlah korban 147 orang. Kasus tersebut tersebar di 24 kecamatan di wilayah Kabupaten Cilacap.

“Ini baru kasus yang terungkap atau dilaporkan, tidak menutup kemungkinan kondisi sebenarnya, jumlahnya lebih banyak lagi terjadi dalam keluarga maupun di masyarakat luas, hanya saja dikarenakan korban tidak berani lapor maka kasus tersebut dipendam sendiri,” ungkap Kepala DInas KB PPPA Kabupaten Cilacap Murniyah pada kegiatan Pelatihan Bagi Kader Pendamping Korban Kekerasan Terhadap Perempuan dan Anak, di Hotel Sindoro, Kamis sore (18/03/21).

Lebih lanjut, Murniyah mengatakan, ada 3 (tiga) hal kategori dalam kekerasan terhadap perempuan dan anak. Yakni meliputi kekerasan fisik, non fisik/mental dan kekerasan seksual. Terhadap berbagai kekerasan yang dialami perempuan dan anak tersebut, salah satu aspek yang menjadi perhatian terpenting adalah memulihkan perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan.

Proses pemulihan dalam hal ini dinilai bukanlah proses yang mudah. Sebab menurutnya pemulihan korban kekerasan tidak saja mempertimbangkan aspek-aspek fisik, tetapi juga perlu melihat aspek psikis korban.

“Setidaknya ada tiga kebutuhan utama bagi perempuan dan anak yang menjadi korban kekerasan. Yaitu kebutuhan akan layanan medis, kebutuhan akan layanan hukum dan kebutuhan akan layanan psikososial,” ungkapnya.

Oleh karena itu dengan adanya kegiatan peatihan ini, dia berharap nantinya dapat mencetak kader pendamping korban kekerasan terhadap perempuan dan anak di Kabupaten Cilacap.

“Kita belajar dari proses memahami bentuk dan dinamika kekerasan terhadap perempuan dan anak, bagaimana alur pelaporan dan pendampingan, bagaimana membangun raport, menggali informasi, teknik dasar konseling sampai dengan pertolongan psikologis pertama terhadap korban,” imbuhnya.

Dalam kesempatan yang sama, Murniyah turut menyampaikan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Tengah saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan “Gerakan Jo Kawin Bocah” guna mencegah dan mengurangi angka perkawinan anak di Propinsi Jawa Tengah.

Demikian pula di Kabupaten Cilacap ini, Dinas KB PPPA juga berupaya melalui langkah-langkah pencegahan dan promotif, baik melalui penyuluhan maupun promosi melalui “jingle Jo Kawin Bocah” yang sedang dipopulerkan oleh anak-anak dari Forum Anak Cilacap (Foraci).

Terpisah, Ketua Foraci – Mutiara Andini Wantoso Putri mengatakan, bahwa pihaknya berkomitmen untuk terus mendukung upaya Pemkab Cilacap dalam berbagai program, khususnya yang ada dilingkup Dinas KB PPPA Cilacap.

“Kami yang beranggotakan 47 anak perwakilan dari seluruh wilayah Kecamatan di Cilacap akan terus mendukung program Dinas KB PPPA. Bentuknya mulai dengan peka terhadap lingkungan sekitar, mensosialisasikan Gerakan Jo Kawin Bocah, kemudian menjadi influencer di medsos dengan fokus pada edukasi positif mengenai jingle Jo Kawin Bocah sesuai amanat undang – undang kita yang masih dibawah 18 tahun diminta untuk tidak menjalankan perkawinan dahulu,” tandasnya.

Dalam kegiatan tersebut turut dihadiri sejumlah narasumber, seperti Kuriake Kharismawan, M.Si, selaku Psikolog, maupun tim dari UNIKA Soegijapranata Semarang , maupun Kepala Dinas KB PP dan PA, Murniyah.

Turut serta Koordinator PKB se-Kabupaten Cilacap, para petugas layanan perempuan dan anak Dinas KBPPPA, Tim Peksos dan RPTC Dinas Sosial, Tim Penggerak PKK Kabupaten Cilacap, HIMPSI (Himpunan Psikolog Seluruh Indonesia) Cabang Barlingmascakeb, PATBM dari Desa Sidasari Kecamatan Cipari, PATBM dari Desa Panikel dan Desa Ujunggagak Kecamatan Kampung Laut serta anak-anakku dari Forum Anak Cilacap (FORACI).

(Guruh)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *