Memasuki Puncak Musim Kemarau, Wilayah Cilacap Masih Di Guyur Hujan. Ini Kata BMKG

CILACAP – Meski sudah memasuki puncak musim kemarau, namun wilayah Kabupaten Cilacap dan sekitarnya, bahkan merata di wilayah Jawa Tengah bagian selatan, masih sering terjadi turun hujan dengan intensitas ringan hingga sedang.

“Secara klimatologis, wilayah Cilacap dan sekitarnya, saat ini diperkirakan sudah memasuki puncak musim kemarau, tetapi, pada awal bulan Agustus ini, hujan masih turun,” kata Kepala Kelompok Teknisi BMKG Stasiun Meteorologi Tunggul Wulung Cilacap Teguh Wardoyo, Rabu (04/8/21).

Ia mengatakan, tercatat pada tanggal 1 Agustus curah hujan mencapai 9 milimeter, tanggal 2 Agustus 15 milimeter, dan 3 Agustus 25 milimeter.

“Terdapat ada 5 hal yang menjadi penyebab terjadinya hujan di bulan Agustus. Yang pertama yakni Dipole Mode Indeks (DMI) atau perbedaan nilai anomali suhu permukaan laut. Dipole Mode Indeks merupakan fenomena interaksi laut dan atmosfer di Samudra Hindia yang dihitung berdasarkan perbedaan nilai atau selisih suhu permukaan laut antara pantai timur Afrika dan pantai barat Sumatra,” jelas Teguh.

Faktor kedua, yakni adanya anomali suhu permukaan laut yang berkisar 1 – 3 derajat Celcius di samudra Hindia khususnya selatan Jawa. Faktor ketiga yakni adanya gelombang Rossby Ekuatorial yang terpantau aktif di Aceh, jawa dan papua bagian Selatan.

“Selanjutnya faktor yang keempat, adanya tipe Low atau tekanan rendah yang saat ini aktif di lampung, pesisir utara Jawa dan kalimantan bagian selatan. Yang tidak kalah penting dari faktor lokal, terdapat kelembaban yang cukup tinggi, sehingga menjadi faktor pendukung terhadap potensi pembentukan awan hujan,” katanya.

“Dengan mempertimbangkan hal tersebut, diperkirakan dua hari kedepan, di wilayah Cilacap dan sekitarnya masih berpotensi hujan dengan intensitas ringan hingga sedang,” tambahnya.

Reporter : Intan

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *