Merdeka Belajar dan Adiwiyata, Limbah Tempe Disulap Jadi Pupuk Cair

CILACAP – Tempe merupakan salah satu makanan khas daerah yang cukup populer dimasyarakat Indonesia. Tak heran jika tingkat produksi maupun konsumsi panganan yang satu ini masih sangatlah tinggi. Bahkan sering kali banyak tempe tersisa, kerap membusuk dan menjadi persoalan lingkungan. Yakni limbah produksi maupun rumah tangga.

Berangkat dari keperihatinan dengan adanya kondisi tersebut, siswa di SMP Negeri 6 Cilacap dengan bimbingan Calon Guru Penggerak – Isnaeni Sumiarsih, justru mampu menyulap tempe busuk menjadi pupuk cair. Adapun prosesnya cukup unik, yakni limbah tempe busuk yang berhasil dikumpulkan dilararutkan dengan cairan fermentasi dari tape dan gula pasir sebagai nutrisi.

Isnaeni mengungkapkan, pupuk cair dari limbah tempe busuk ini nantinya akan digunakan untuk memupuk tanaman yang ada di sekolah. Tentunya hal ini dinilai sebagai salah satu pembelajaran yang baik kepada siswanya. Yakni sesuai program merdeka belajar serta Adiwiyata yang konsen terhadap kelestarian lingkungan.

“Sekolah kami saat ini Adiwiyata Nasional, menuju Adiwiyata Mandiri. Jadi inovasi tentang lingkungan seperti ini sangat dibutuhkan. Pupuk cair buatan anak-anak nantinya dipakai untuk memupuk tanaman yang sudah ada seperti bunga dan sayur yang ada di sekolah. Kami juga punya taman gantung Wijayakususma sebagai tanaman endemik khas Cilacap. Dengan pupuk cair ini, kami sama sekali tidak lagi memakai pupuk kimia untuk memupuk tanaman yang kami miliki” jelas Isnaeni, Kamis (06/05/21).

Salah satu siswa yang terlibat dalam pembuatan pupuk berbahan tempe busuk, adalah Zahra Amelia al Fatah. Dia mengungkapkan, jika dirinya senang dilibatkan dalam proses pembuatan pupuk ini. Sebab menurutnya, ini menjadi pengalaman baru yang sangat bermanfaat.

“Dari pelajaran membuat pupuk ini, kita jadi tahu kalau ternyata banyak limbah disekitar rumah yang masih bisa dimanfaatkan menjadi hal yang berguna” ujar Zahra.

Kepala SMPN 6 Cilacap – Anteng Widiastuti mengapresiasi serta mendukung kegiatan ini. Terlebih inovasi yang dilakukan oleh Calon Guru Penggerak dinilai sangat membantu mewujudkan konsep merdeka belajar dan juga mendukung terwujudnya sekolah Adiwiyata mandiri.

“Dengan inovasi yang ada, membuktikan bahwa pandemi tidak menghalangi terus dijalankannya program Adiwiyata. Justru muncul inovasi baru dimana siswa juga menerapkan konsep Adiwiyata dari rumah. Artinya, cinta lingkungan sudah bukan lagi jargon di sekolah semata namun sudah membudaya sampai di rumah. Juga, belajar tidak terbatas di sekolah, namun bisa juga dimana saja” tandasnya.

(Guruh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *