Polres Cilacap Mulai Selidiki Temuan Limbah Medis Di Teluk Penyu

Kepolisian Resor Cilacap mulai menelusuri terkait temuan sejumlah limbah medis yang berserakan di Pantai Teluk Penyu pada Sabtu 7 November 2020 lalu. Penelusuran dilakukan guna mengetahui asal muasal limbah medis yang diduga Bahan Berbahaya dan Beracun (B3) tersebut.

Kapolres Cilacap AKBP Dery Agung Wijaya melalui Kasat Reskrim AKP Rifeld Constantien Baba pada Senin malam, mengatakan bahwa saat ini proses tersebut masih dalam penyelidikan.

“Untuk detailnya masih menunggu perkembangan selanjutnya dari Unit Tipiter Satreskrim Polres Cilacap,” imbuh Kasatreskrim Polres Cilacap AKP Rifeld Constantien Baba.

Saat disinggung pengambilan sample limbah medis, Kasat Reskrim masih belum memberikan keterangan.

Terpisah, Kepala Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Cilacap – Awaludin Muuri saat dikonfirmasi tim pemberitaan LPPL Radio Bercahaya FM, pihaknya mengaku belum ada laporan terkait penemuan limbah medis di Pantai Teluk Penyu.

Kendati demikian, menurut Awaludin hal itu jelas melanggar aturan. Sebab walaupun hanya sekedar sampah menurutnya juga tidak boleh dibuang sembarangan. Terlebih untuk jenis obat-obatan atau limbah medis yang dinilai dapat membawa dampak berbahaya bagi kesehatan maupun lingkungan.

Oleh karena itu, menurutnya temuan limbah sampah medis ini dinilai perlu ditindaklanjuti dengan melakukan investigasi bersama instansi terkait. Tujuannya untuk mengetahui kepastian dari jenis limbah medis tersebut. Yakni dari jenis obat-obatnya maupun sumber asal muasalnya.

Mengenai sanksi yang diberikan kepada oknum pembuangan limbah medis tersebut, Awaludin sejauh ini menyatakan bahwa masih belum bisa memberi tanggapan. Dikarenakan dia masih harus mengetahui kepastian jenis limbah dan berapa jumlah limbah medis yang ditemukan.

“Kita harus memastikan jenisnya terlebih dahulu,” kata Awaludin.

Lebih lanjut, indikator penting untuk pemberian sanksi adalah limbah atau sampah yang ditemukan menurutnya perlu dilihat dari sifatnya yang berbahaya dan berpeluang besar menyebarkan penyakit. Sedangkan sanksi yang mengancam oknum pembuang limbah B3 sembarangan, yakni dalam Undang-undang Lingkungan Hidup, tertera dalam UU Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPLH).

Dalam temuan limbah medis di pantai Teluk Penyu baru baru ini, Awaludin menegaskan bahwa pihaknya bersama instansi terkait di Kabupaten Cilacap tidak akan tinggal diam. Bahkan siap membantu kepolisian bila dibutuhkan.

“Intinya jika memang dibutuhkan kami bersama instansi terkait tentunya siap untuk mendukung Polres Cilacap,” ungkapnya.

Disinggung mengenai penanganan limbah medis khususnya di Rumah Sakit, Awaludin menerangkan, ada dua jenis limbah di Rumah Sakit yakni limbah biasa (termasuk didalamnya sampah) dan limbah B3. Sedangkan yang penanganannya khusus adalah limbah yang mengandung B3.

Menurutnya, selama ini RS di Kabupaten Cilacap karena belum ada yang memiliki tempat atau perusahaan pengelolaan dan penanganan khusus limbah B3. Sehingga penanganannya diserahkan kepada pihak ketiga.

Limbah tersebut dibawa ke Kabupaten/Kota yang mempunyai perusahaan yang bisa mengolah limbah B3 ini. Dan dikatakan, pihak RS membayar jasa untuk penanganan limbah B3 itu.

“Sedangkan untuk limbah cair, dia menambahkan, penanganannya di intalasi pengolahan air limbah (IPAL). Selanjutnya setelah diolah di IPAL, keluarnya limbah yang sudah bisa masuk ke air permukaan,” kata Awaludin.

Seperti diberitakan sebelumnya, limbah medis berupa obat, botol-botol cairan infus dan desinfektan yang masih lengkap dalam kemasan ditemukan berserakan di Pantai Teluk Penyu, Kabupaten Cilacap, Sabtu (7/11) pagi. Barang medis yang telah kedaluwarsa tersebut ditemukan warga nelayan setempat yang tengah mencari rongsok di sepanjang pantai.

(Guruh)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *