Terdampak Pandemi, Okupansi Perhotelan Cilacap Jeblok

CILACAP – Pendapatan dari tingkat hunian atau Okupansi sejumlah Hotelier di Cilacap dalam dua tahun terakhir ini merosot tajam. Bahkan jumlahnya sejak tahun pertama tercatat hingga 95 persen. Salah satu penyebabnya adalah menurunnya jumlah kunjugan akibat dari adanya pandemi Covid-19.

Kondisi ini juga dinilai membuat kerdilnya grafik pertumbuhan dari perhotelan di Cilacap. Yakni berdasarkan data hotel kompetitor atau hotkom report, grafiknya saat ini baru mencapai 50 persen atau dengan keuntungan profit yang kecil.

Hal tersebut diungkapkan Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI) Cilacap – Amin Suwanto,pada Senin pagi.

Lebih lanjut, mayoritas hotel dengan kapasitas kecilselama pandemi dinilai menjadi yang paling terdampak. Sebab berdasarkan kondisi saat ini, hotel juga dituntut untuk dapat menerapkan serta mengurus sertifikasi terkait layak fungsi bangunan dan protokol kesehatan. Namun sayangnya, sejauh ini para pelaku usaha perhotelan di Cilacap masih menghadapi kesulitan dalam mengurus perizinan khususnya sertifikasi layak fungsi bangunan. Sementara  CHSE atau Clean, Healthy, Safety, Environment, diakui beberapa diantaranya sudah meengantongi sertifikasi tersebut.

Menanggapi  hal ini, Amin juga menjelaskan, bahwa PHRI Cilacap sudah menindaklanjutinya dengan menemui pihak Pemkab Cilacap  guna mendapatkan titik temu dalam hal tersebut. Disisi lain PHRI Cilacap yang menyatakan mendukunganya pada aturan prokes Covid-19, juga mengusulkan kepada pemerintah agar dapat menyuguhkan sarana  pelayanan kesehatan yang mudah serta murah  guna dimanfaatkan oleh para pelaku usaha maupun karyawan perhotelan dan  pendatang.

“Ketika mengurus perijinan sertifikasi layak fungsi bangunan di Cilacap itu kebetulan belum ada yang bisa mengeluarkan sertifikat itu. Tapi kemarin sudah ada pernyataan dari Dinas PUPR akan ada upaya pembentukan badan yang dapat memfasilitasi sertifikat ini yang biayanya cukup mahal,” jelas Amin.

General Manager Fave Hotel Cilacap – Novi Nur Adianto

Sementara itu General Manager Fave Hotel Cilacap – Novi Nur Adianto mengatakan, kondisi jebloknya okupansi perhotelan saat ini memaksa pelaku usaha untuk bertahan dengan cara meminimalisir pengeluaran dan menabung. 

Diakuinya pendapatan karyawan bahkan sampai saat ini disesuaikan dengan keadaan. Sementara terkait bulan puasa maupun lebaran lalu, menurutnya masih belum mendongkrak okupansi perhotelan di Cilacap. Yakni keterisian harian yang hanya mampu mencapai 55 persen saja, dan grafik pada angka minimal yang stagnan sekitar  45 persen.

“Kendati terdampak pandemi, untuk perhotelan di Cilacap yang tergabung dalam PHRI sejauh ini masih terus berusaha mempertahankan karyawannya. Bahkan dipastikan belum ada satu pun karyawan yang dirumahkan atau PHK dari pekerjaannya di dunia perhotelan,” pungkasnya.

(GURUH)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *