Tingkatkan Pemantauan Pertumbuhan Balita , Dinkes Gelar Pelatihan

CILACAP – Guna meningkatkan pengetahuan dan ketrampilan kader posyandu dalam melakukan pemantauan pertumbuhan anak balita, Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap menggelar kegiatan Pelatihan Pemantauan Pertumbuhan Balita Bagi Kader Posyandu dan KPM (Kader Pembangunan Manusia), Senin, (06/12/21).

Kegiatan yang dilaksanakan di Hotel Sindoro tersebut diikuti oleh 100 kader posyandu yang terbagi dalam dua angkatan masing – masing 50 kader.

Kepala Seksi Kesehatan Keluarga Gizi Dinas Kesehatan Kabupaten Cilacap Endah Puspitowati menyampaikan bahwa kegiatan ini untuk membekali para kader posyandu dan KPM yang merupakan ujung tombak terkait dengan pelaksanaan pemantauan pertumbuhan dilapangan.

“Apakah mereka sudah betul – betul melakukan pemantauan pertumbuhan dengan baik dan benar seperti melakukan penimbangan, kemudian pengukuran tinggi badan,  apakah sudah sesuai dengan standar? dan apakah alat – alatnya juga sudah sesuai dengan standar? Sehingga hasil pemantauan di lapangan merupakan hasil yang betul – betul valid dan bisa di pertanggungjawabkan,” jelas Endah.

Meski kader posyandu dan KPM telah melakukan penimbangan dan pengukuran tinggi badan dalam setiap bulan, namun terkadang masih terjadi kesalahan dalam pengukuran yang akan berdampak luar biasa.

“Kalau tidak dilakukan dengan baik dan benar, ini akan sangat berdampak, karena peningkatan berat badan pada balita yang hanya bertambah 1 atau 2 ons saja, itu akan berdampak sekali dan akan menjadi sia – sia. Sehingga yang seharusnya status gizinya baik, mungkin malah menjadi tidak baik, yang harusnya gizinya kurang malah menjadi gizi buruk dan sebagainya,” jelas Endah.

Penanganan stunting juga harus didukung oleh alat pengukuran antropometri yang memadai seperti timbangan ataupun tinggi badan. Menurutnya, alat pengukuran antropometri harus rutin dilakukan tera ulang. Selain itu pengukuran yang salah juga menjadi salah satu permasalahan yang di alami oleh kader posyandu dan KPM.

“Masih banyak cara mengukur tinggi badan yang tidak sesuai, jadi anak belum siap dan anak masih berdiri seadanya, jadi ini belum maksimal,” katanya.

Endah menambahkan bahwa Lokus stunting di Kabupaten Cilacap saat ini di dominasi oleh Kecamatan Cipari, karena dari 11 desa, terdapat 8 desa yang menjadi lokus stunting. Pemkab Cilacap sendiri mentargetkan tahun 2024 prevalensi angka stunting harus bisa mencapai 14%.

“Ini merupakan target yang luar biasa sekali,  membutuhkan kerja keras bersama dari lintas OPD terkait untuk bersama – sama menangggulangi masalah stunting,” ujarnya.

Diketahui, Indonesia, saat ini masih menghadapi permasalahan gizi, salah satunya yang menjadi perhatian utama adalah tingginya anak balita pendek (Stunting).

Berdasarkan hasil Riset Kesehatan Dasar Tahun 2013, prevalensi stunting di Indonesia mencapai 37,2%, tahun 2018 sebesar 30,6%. Sedangkan prevalensi stunting di kabupaten Cilacap berdasarkan Riskesdas 2013 sebesar 36,1% dan tahun 2018 sebesar 32,1%. (tan/bercahayafm)