TJKPD Cilacap Serius Atasi Hambatan Produk Unggulan Gula Merah

Sebagai salah satu produk Unggulan Daerah, pengembangan Gula Merah khususnya Gula Kristal di Kabupaten Cilacap masih dihadapkan dengan  beragam persoalan.  Mulai dari Hygienis sanitasi tempat produksi yang masih kurang sampai kepada pro dan kontra pemakaian gula rafinasi dalam pembuatan gula Merah. Jalan keluar dari permasalahan tersebut, serius dibahas dalam WorkShop Tem Jejaring Keamanan Pangan Daerah-TJKPD Kabupaten Cilacap, Kamis pagi di Ruang Jala Bumi Kantor Bupati Cilacap.

Sebagai kabupaten terluas di Jawa Tengah, Kabupaten Cilacap memiliki potensi beragam komoditas dan produk unggulan daerah. Selain produk perikanan, Cilacap menyimpan kekayaan keragaman hayati, seperti buah manggis, pala, jeruk, kopi dan kelapa maupun produk turunannya seperti gula kristal atau yang sering disebut gula semut. Bupati Cilacap H. Tatto Suwarto Pamuji, usai membuka workshop Kemanan Pangan yang diselelnggarakan Tim Jejaring Keamanan Pangan  Daerah-TJKPD Kabupaten Cilacap di ruang Jala Bumi Kantor Bupati Kamis pagi, kepada wartawan menyatakan, untuk produk unggulan gula semut, Cilacap sudah melakukan ekspor ke Negeri Berlanda dan Arab Saudi. Diakui Bapati Tatto Suwarto Pamuji, ekspor Gula semut sudah cukup banyak dilakukan, namun masih ditemukan adanya kelemahan, berkaitan dengan mutu, komposisi, kemasan dan kontinyuitas produksi.

Hal senada diakui Kepala Loka Pengawasan Obat dan Makanan-POM Banyumas Suliyanto yang menjerlaskan,  produksi gula merah maupun gula semut di Cilacap dari hasil evaluasi dan monitoring di lapoangan menunjukkan masih ditemukannya hiegenis sanitasi  tempat produksi yang sangat kurang terjaga, adanya penambahan pengawet Nastrium Bisulfit yang melebihi batas, penambahan bahan-bahan yang tidak semestinya digunakan untuk pangan, seperti limbah kecap dan limbah permen, belum berizin edar serta Pro / kontra pemakaian gula rafinasi dalam pembuatan gula merah. Menurut Suliyanto, pro kotra pemakaian gula Rafinasi sebagai bahan baku pembuatan gula merah, menyusul adanya pembahasan dalam penyusunan Standar Nasional Indonesia-SNI, hal tersebut masih menjadi wacana di tingkat pusat.

Sementara itu, Kepala Dinas Pangan dan Perkebunan Kabupaten Cilacap, Susilan mengakui, wacana akan dikeluarkannya Satbdar Nasional Indonesia-SNI untuk Gula Merah berbahan Gula pasir Rafinasim ini, 4 kabupaten yang tergabung dalam BarlingmasCaKeb sudah menyamakan persepsi untuk menyatakan keberatannhya, karena dinilai dapat merugikan pengrajin  gula merah asli dari nira kepala, aren dan sejenisnya dengan  laru alami.

Untuk mengatasi permasalahan terserbut, pemerintah Kabupaten Cilacap melalui Tim Jejaring Keamanan Pangan Daerah-TJKPD bersama dinas terkait melakukan pembinaan yang berkelanjutan terhadap pelaku usaha, mendorong pelaku usaha untuk mendaftarkan produknya supaya memiiki izin edar PIRT / MD, serta membangun kesepahaman dan kesepakatan tentang aturan penggunaan gula rafinasi pada industri gula merah. (4ng2id)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *